Sebuah artikel oleh Hannah Mulders mengenai pengalaman para mahasiswa Indonesia di Australia dan juga tanggapan kami terhadap artikel tersebut. Judul artikel tersebut: Pelajar Indonesia di Australia sering mengalami kesulitan diambil dari http://www.indonesiamatters.com/1606/belajar-di-australia/

Isi Artikel:

Sebuah laporan dari universitas Monash dan Melbourne menyatakan bahwa pelajar Asia yang menuntut ilmu di luar negeri, dalam kasus ini di universitas-universitas Australia, menderita kadar isolasi dan kesepian yang sangat tinggi.

Dua ratus pelajar dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Cina dan India dijajaki pendapatnya dengan hasil 67% wanita dan 62% laki-laki mengatakan mereka sering bingung di Australia dan sulit berteman dengan murid-murid lokal Australia.

Pelajar Singapura yang 100% mengatakan merasa “lost in a jungle” (hilang di hutan) dan “in a very strange place” (berada di tempat yang sangat aneh).

Laporan tersebut juga membuang mitos yang menggambarkan pelajar Asia dengan mobil mahal dan berkehidupan mewah, disebutnya:

…banyak pelajar mancanegara tidak mampu makan, 60% dibayar kurang dari batas gaji minimum yang legal, dan mereka adalah yang paling rawan akan eksploitasi… …karena kurangnya kemampuan berbahasa Inggris dan ketidakpedulian akan hak-hak bekerja.

Para pencipta laporan tersebut mencerca universitas-universitas Australia yang telah memperlakukan pelajar asing seperti “cash cows” (sapi perahan).

Sekitar sepertiga dari pelajar asing dilaporkan memiliki kurang dari separuh uang yang diperlukan untuk menutup ongkos kehidupan dasar.


===================== Artikel Selesai =====================

Komentar Konselor MBA Pratama:

Halo semua..
Saya kok agak bingung saat membaca artikel “Pelajar Indonesia di Australia sering mengalami kesulitan”. Masalah apa yang sebenarnya mau ditonjolkan oleh artikel ini? Saya kok gak bisa mengambil benang merah (atau putihnya) ya..

Mari kita pilah satu persatu masalahnya…

1) Sulit berteman dengan murid-murid lokal Australia.

Apa karena murid Asianya yang tidak bisa bergaul dengan murid Australia, atau murid Australianya yang tidak mau bergaul dengan murid Asianya? Lalu kalau kita berpikir lebih lanjut lagi, masalah pergaulan itu merupakan masalah yang universal dan bukan hal baru. Kalau seseorang tidak bisa menemukan jalan keluar dari masalah pergaulannya, ya berarti orang itu sendiri yang tidak bisa bergaul kan? Jangankan dengan orang Australia, banyak student Indonesia yang merasa tidak “sreg” bergaul di kalangan PPI (Persatuan Pelajar Indonesia). PPI ini ada disetiap negara lho, bahkan kota. Agent pendidikan manapun tidak bisa memberikan konseling tentang cara bergaul yang baik. Itu harus keluar dari diri yang bersangkutan sendiri bukan? Kita lupakan komentar pelajar Singapura yang “lost in the jungle” ya, lagipula jawabannya juga sama. Mungkin dia juga akan “lost in the jungle” kalau di Indonesia.

2)”banyak pelajar mancanegara tidak mampu makan, 60% dibayar kurang dari batas gaji minimum yang legal, dan mereka adalah yang paling rawan akan eksploitasi karena kurangnya kemampuan berbahasa Inggris dan ketidakpedulian akan hak-hak bekerja”

Memang menjadi masalah kalau student sampai tidak bisa makan. Lalu kemudian dikaitkan dengan gaji yang tidak layak. Mari coba kita pikirkan lagi dan kembalikan kepada fitrah dan motivasi utama para murid itu berada di Australia.. YANG PERTAMA dan SANGAT MENDASAR adalah tujuan mereka ke Australia untuk menjadi FULL FEE PAYING STUDENT. Visa mereka adalah STUDENT VISA. Salah satu syarat untuk mendapatkan student visa yang ditetapkan pemerintah Australia adalah bukti bahwa sang STUDENT memiliki dana yang cukup untuk menjamin kehidupannya selama di Australia, apakah itu tabungannya sendiri atau dukungan dari keluarganya.

 

Mengenai gaji yang tidak layak, Nampaknya artikel ini terlalu cepat MELONCAT ke kondisi kerja bagi para student tersebut pada saat melakukan part-time job. Pembayaran gaji di Australia cukup adil.. asalkan sang pelaku kerja mengikuti peraturan yang berlaku. Salah satunya adalah keharusan masing-masing pekerja (baik orang Australia maupun orang asing termasuk student Indonesia yang kerja paruh waktu) untuk memiliki TAX FILE NUMBER (NPWP Australia). Kalau anda tidak memiliki TFN, maka anda menempatkan diri pada posisi yang sangat-sangat rentan, baik di mata pemberi kerja yang tahu bahwa anda tidak terlindungi oleh hukum Australia karena anda sudah melanggar hukum tersebut, dan yang kedua rentan terhadap tindakan hukum dari pemerintah Australia sendiri.

Tapi kemudian, apakah para student dianjurkan untuk mengandalkan pendapatan gaji kerja part-timenya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya? Jawabnya TIDAK! Kenapa? Karena sang student berada di Australia untuk belajar. Kalau mau kerja yang bener, lulus dulu, baru cari kerjaan yang beneran. Tunjangan kesejahteraan para student harus dipersiapkan sendiri oleh pihak student sebelum datang ke Australia. Kalau secara financial tidak mencukupi, silahkan cari bea siswa. Kalau tidak mendapat bea siswa, sebaiknya dipikirkan kembali rencana belajar ke Australia (atau ke negara lainnya di dunia).

Lagipula, jumlah maksimum jam kerja yang diperbolehkan bagi student asing di Australia adalah 20 jam seminggu. Biasanya dulu kami bekerja hanya 10 jam seminggu. Alasannya karena memang pekerja paruh waktu tergantung ROSTER (jadwal) yang diberikan employer, dan memang karena beban studinya cukup banyak. Kerja paruh waktu adalah untuk menambah pengalaman dan uang saku.

Jadi persoalan menjadikan student Indonesia sebagai “sapi perahan” (atau perahan sapi?) oleh universitas australia itu dasarnya dimana…..? Ini masalah persiapan para student itu sendiri sebelum berangkat kan?

Apakah pandangan saya benar… atau ada yang terlewat oleh saya dari artikel itu?


Magazine - Other articles